Hukum

Aqad Syirkah dalam Islam: Lima Jenis, Pembagian Untung Rugi, dan Syirkah Pertanian

Rujukan aqad syirkah (kongsi usaha): definisi, dalil, rukun, lima jenis syirkah akad (inan, abdan, mudharabah, wujuh, mufawadhah), aturan untung dan rugi, serta muzara'ah, mukhabarah, dan musaqah.

Syirkah adalah aqad antara dua pihak atau lebih untuk menjalankan suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan. Yang dikongsikan bisa modal (mal, مال), kerja (amal, عمل), atau keduanya. Hukumnya boleh (jaiz, جائز).

Tulisan ini lanjutan dari aqad ijarah dan rujukan induk aqad bai’. Istilah dasar seperti rukun, sighat, dan majelis aqad dijelaskan di sana. Di sini kita fokus pada yang khas bagi syirkah: lima jenisnya, aturan untung dan rugi, serta syirkah di bidang pertanian. Ini bukan fatwa. Ini ringkasan hukum yang saya pegang, disusun agar Anda bisa memeriksa sendiri alurnya.

Apa itu syirkah?

Asy-syirkah (الشركة) memuat empat unsur:

  • Aqad, yaitu kesepakatan antara dua pihak atau lebih
  • Usaha bisnis yang mereka wujudkan bersama
  • Tujuan memperoleh keuntungan
  • Kontribusi berupa kerja, modal, atau keduanya

Ada dua kelompok besar. Syirkah amlak (شركة الأملاك) adalah kepemilikan bersama atas suatu barang yang diperoleh lewat salah satu sebab kepemilikan, seperti hibah, jual beli, atau warisan. Di sini tidak ada aqad usaha. Syirkah akad (شركة العقود) adalah aqad kerja sama usaha untuk meraih keuntungan. Tulisan ini membahas syirkah akad.

Dalil kebolehan syirkah

Dalil utama dalam materi AKBS adalah as-sunnah. Pertama, Nabi ﷺ menetapkan (taqrir) muamalah syirkah yang dijalankan para sahabat. Kedua, hadis qudsi tentang dua pihak yang berkongsi:

إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ، مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا

“Allah berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua pihak yang berkongsi selama salah satunya tidak mengkhianati yang lain. Jika salah satunya berkhianat, Aku keluar dari keduanya.” (HR. Abu Dawud, juga diriwayatkan Al-Baihaqi dan Ad-Daruquthni; teks di basis data hadis)

Hadis ini bukan hanya dalil kebolehan. Ia juga menunjukkan hal terpenting dalam syirkah: amanah. Mitra yang berkhianat kehilangan keberkahan usaha itu.

Sebagai pelengkap dari Al-Qur’an, Allah menyebut para pihak yang bersekutu (al-khulatha’, الخلطاء) dan memberi pengecualian bagi yang beriman:

وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْخُلَطَآءِ لَيَبْغِى بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ

“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh.” (QS. Shad: 24)

Ayat ini saya tambahkan sendiri sebagai pelengkap. Materi AKBS tidak memuatnya. Para ahli tafsir umumnya memaknai khulatha’ sebagai para mitra yang bercampur harta atau usahanya.

Tiga rukun syirkah

Rukunnya sama bentuknya dengan jual beli:

Rukun Isi Syarat
1. Dua pihak atau lebih (al-aqidan, العاقدان) Para mitra usaha (syarik, شريك) Memiliki ahliyah at-tasharruf, yaitu kecakapan melakukan tindakan hukum
2. Objek aqad (mahallul aqad, محل العقد) Pekerjaan (amal) dan atau modal (mal) Mencakup kerja dan atau modal
3. Sighat (صيغة) Ijab dan qabul Muwafiq, satu majelis, tanpa fashil, saling mendengar

Syarat sighat sama dengan jual beli dan dijelaskan di rujukan induk aqad bai’.

Lima jenis syirkah akad

Jenis Siapa memberi apa Singkatnya
Inan (عنان) Semua memberi modal dan kerja Sama-sama pemodal dan pengelola
Abdan (أبدان) Semua hanya memberi kerja Tanpa modal
Mudharabah (مضاربة) Satu pihak modal, pihak lain kerja Pemodal dan pengelola
Wujuh (وجوه) Berdasar ketokohan atau kepercayaan Dua bentuk
Mufawadhah (مفاوضة) Gabungan semua jenis di atas Boleh

1. Syirkah inan

Syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing memberi kerja dan modal. Contoh: A dan B patungan membuka toko, dan keduanya ikut mengelola.

Syarat modalnya:

  • Modal harus berupa uang (nuqud, نقود).
  • Barang (urudh, عروض), misalnya rumah, tidak boleh langsung dijadikan modal. Boleh jika barang itu dinilai harganya (qimah al-urudh) pada saat aqad, lalu nilai itu yang dihitung sebagai modal.

Untung dan rugi: keuntungan dibagi menurut kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung masing-masing mitra menurut porsi modal. Dalilnya atsar Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه yang diriwayatkan Abdurrazaq dalam Al-Jami’:

“Kerugian didasarkan atas besarnya modal, sedangkan keuntungan didasarkan atas kesepakatan mereka.”

Artinya, nisbah untung boleh tidak sama dengan porsi modal. Misalnya modal 50:50 tetapi untung 60:40 karena satu pihak bekerja lebih banyak. Rugi tidak bisa begitu: rugi mengikuti modal.

2. Syirkah abdan

Syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing hanya memberi kerja, tanpa modal. Kerjanya bisa kerja pikiran (penulis) atau kerja fisik (tukang kayu, sopir, nelayan).

  • Keahlian tidak harus sama. Boleh tukang kayu bersama tukang batu.
  • Pekerjaan wajib halal. Tidak boleh pekerjaan haram seperti merampok, membunuh, atau berburu babi hutan.
  • Untung dibagi menurut kesepakatan. Nisbahnya boleh sama dan boleh tidak sama.

3. Syirkah mudharabah

Syirkah antara dua pihak atau lebih dengan ketentuan satu pihak memberi modal, pihak lain memberi kerja. Pemodal disebut shahibul mal (صاحب المال), pengelola disebut mudharib (مضارب).

Dalam materi AKBS, mudharabah dihitung sebagai salah satu jenis syirkah. Ada tiga bentuk skema:

  1. Satu pemodal dan satu pengelola.
  2. Satu pemodal, dan pihak kedua adalah pengelola yang juga ikut menyetor modal.
  3. Beberapa pemodal bergabung, dengan satu pengelola.

Kewenangan: pengelolaan (tasharruf) hanya hak pengelola. Pemodal tidak berhak ikut campur dalam pengelolaan. Namun pengelola terikat syarat yang ditetapkan pemodal di awal aqad.

Untung dan rugi:

  • Untung dibagi menurut kesepakatan pemodal dan pengelola.
  • Rugi ditanggung hanya oleh pemodal.
  • Pengelola ikut menanggung rugi bila kerugian timbul karena kesengajaan, kelalaian, atau ketidakamanahannya, atau karena ia melanggar syarat yang ditetapkan pemodal di awal aqad.

Perhatikan pasangan aturan ini: pengelola yang jujur dan taat syarat tidak menanggung kerugian uang, sebab ia sudah rugi tenaga. Tetapi begitu ia lalai atau melanggar, kerugian beralih kepadanya.

4. Syirkah wujuh

Syirkah yang didasarkan pada wujuh, yaitu kedudukan, ketokohan, atau keahlian seseorang di tengah masyarakat. Ada dua bentuk.

Tipe 1: tokoh membawa pemodal. A dan B, keduanya tokoh yang dipercaya, sama-sama memberi kerja, lalu menarik pihak ketiga (C) yang hanya memberi modal. Hakikatnya ini syirkah mudharabah, sehingga berlaku ketentuan mudharabah.

Tipe 2: tokoh membeli barang secara kredit. A dan B berkongsi dalam barang yang mereka beli secara kredit dari pedagang (C), atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya. Tidak ada modal dari masing-masing pihak. Hakikatnya ini syirkah abdan. Jual beli kreditnya tunduk pada empat ujian jual beli kredit. Aturannya:

  • Untung dibagi menurut kesepakatan, bukan menurut persentase barang yang dimiliki.
  • Rugi ditanggung masing-masing menurut persentase barang dagangan yang dimiliki, bukan menurut kesepakatan.

5. Syirkah mufawadhah

Syirkah yang menggabungkan semua jenis di atas (inan, abdan, mudharabah, dan wujuh). Menurut materi AKBS, bentuk gabungan seperti ini boleh, sebab setiap jenis syirkah yang sah ketika berdiri sendiri juga sah ketika digabung dengan jenis lain.

Contoh: dua mitra memasang modal (inan), menarik investor yang hanya menyetor uang (mudharabah), menggaet pekerja yang hanya memberi tenaga (abdan), dan membeli stok kredit atas nama baik mereka (wujuh). Semuanya berada dalam satu usaha.

Syirkah di bidang pertanian

Dalam usaha tani, syirkah punya tiga bentuk. Hukumnya berbeda-beda, dan ini sering keliru dipahami.

Bentuk Siapa menyediakan apa Hukum
Muzara’ah (مزارعة) Pemilik lahan menyediakan lahan, bibit, dan seluruh biaya. Petani hanya mengerjakan. Haram
Mukhabarah (مخابرة) Pemilik lahan hanya memberi lahan. Petani menanggung bibit dan seluruh biaya, serta mengerjakan. Haram
Musaqah (مساقاة) Pemilik lahan beserta pepohonannya. Perawat menyirami dan merawat pohon. Halal

Hasil panen dibagi sesuai kesepakatan (sepertiga, seperempat, setengah, atau persentase seperti 50:50, 60:40, 25:75).

Mengapa muzara’ah dan mukhabarah haram

Dalil AKBS:

“Rasulullah ﷺ melarang mengambil sewa atau bagian atas tanah.” (HR. Muslim)

“Siapa saja yang memiliki sebidang tanah, hendaklah dia menanaminya, atau hendaklah saudaranya yang menanaminya. Dia tidak boleh menyewakannya dengan sepertiga atau seperempat (dari hasil pertanian), dan tidak pula dengan makanan yang telah ditentukan.” (HR. Abu Dawud)

Untuk mukhabarah, ada ancaman keras:

مَنْ لَمْ يَذَرِ الْمُخَابَرَةَ فَلْيَأْذَنْ بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Siapa yang tidak meninggalkan mukhabarah, hendaklah ia mengumumkan perang dengan Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Dawud; teks di basis data hadis)

Dan kisah Rafi’ yang menanami sebidang tanah dengan bibit dan kerjanya sendiri, dengan hasil sebagian untuknya dan sebagian untuk orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda, “Kamu berdua telah berbuat riba. Kembalikan tanah itu kepada pemiliknya dan ambillah biaya yang telah kamu keluarkan.” (HR. Abu Dawud, menurut materi AKBS)

Kesimpulan AKBS: muzara’ah dan mukhabarah haram.

Mengapa musaqah halal

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَامَلَ أَهْلَ خَيْبَرَ بِشَطْرِ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا مِنْ ثَمَرٍ أَوْ زَرْعٍ

Dari Ibnu Umar: Rasulullah ﷺ mempekerjakan penduduk Khaibar dengan imbalan separuh dari hasil yang keluar darinya, baik buah-buahan maupun tanaman. (HR. Muslim; teks di basis data hadis)

Musaqah halal dengan ketentuan:

  • Lahan sudah ada tanaman pokoknya.
  • Petani tidak menanam tanaman pokok. Tugasnya hanya merawat: menyirami, menyiangi gulma, dan sejenisnya.
  • Yang dipanen hanya bagian dari tanaman pokok, seperti buah, daun, atau getahnya.
  • Panen tidak boleh menghilangkan tanaman pokok. Misalnya pohon jati yang ditebang seluruhnya tidak termasuk musaqah.

Jadi pembeda yang menentukan adalah apakah pohonnya sudah ada dan hanya dirawat (halal), atau tanahnya digarap lalu ditanami dengan bagi hasil (haram).

Daftar periksa aqad syirkah

  1. Apakah para pihak cakap bertindak hukum dan sighatnya memenuhi syarat?
  2. Apakah jenis syirkahnya jelas: inan, abdan, mudharabah, wujuh, atau gabungan?
  3. Apakah modal berupa uang, atau barang yang sudah dinilai harganya saat aqad?
  4. Apakah pekerjaannya halal?
  5. Apakah nisbah untung sudah disepakati di awal?
  6. Apakah rugi mengikuti modal (inan), ditanggung pemodal (mudharabah), atau mengikuti porsi barang (wujuh tipe 2)?
  7. Pada mudharabah, apakah pemodal tidak ikut campur mengelola, dan syaratnya ditetapkan di awal?
  8. Untuk usaha tani, apakah akadnya musaqah (merawat pohon yang sudah ada), bukan muzara’ah atau mukhabarah?

Pertanyaan yang sering muncul

Bolehkah modal syirkah berupa barang? Pada syirkah inan, barang seperti rumah tidak boleh dijadikan modal begitu saja. Boleh jika barang itu dihitung nilainya pada saat aqad, dan nilai itulah yang menjadi modal.

Bolehkah keuntungan dibagi tidak sama dengan porsi modal? Boleh. Keuntungan menurut kesepakatan, bahkan pada syirkah abdan nisbahnya boleh tidak sama. Yang tidak boleh diatur sesuka hati adalah kerugian: pada inan mengikuti porsi modal.

Siapa menanggung rugi dalam mudharabah? Pemodal. Pengelola menanggung hanya bila rugi karena kesengajaan, kelalaian, ketidakamanahan, atau pelanggaran syarat dari pemodal.

Bolehkah pemodal ikut mengatur pengelolaan? Tidak. Wewenang pengelolaan hanya milik pengelola. Pemodal menjaga kepentingannya lewat syarat yang ditetapkan di awal aqad.

Bolehkah dua tukang dengan keahlian berbeda berkongsi? Boleh, itu syirkah abdan. Tidak disyaratkan kesamaan keahlian.

Bolehkah syirkah dari pekerjaan haram? Tidak. Pekerjaan syirkah abdan wajib halal.

Bolehkah menggabung beberapa jenis syirkah dalam satu usaha? Boleh. Itu syirkah mufawadhah.

Bolehkah bagi hasil lahan pertanian, pemilik lahan dapat sepertiga? Tergantung bentuknya. Jika petani menggarap dan menanam dari awal (muzara’ah atau mukhabarah), haram. Jika pemilik kebun menyerahkan pohon yang sudah ada untuk dirawat (musaqah), halal.

Ringkasan

  • Syirkah adalah aqad kongsi usaha untuk memperoleh keuntungan, dan hukumnya boleh.
  • Rukunnya tiga: pihak yang cakap bertindak hukum, objek (kerja dan atau modal), dan sighat.
  • Ada lima jenis syirkah akad: inan, abdan, mudharabah, wujuh, mufawadhah.
  • Untung menurut kesepakatan. Rugi pada inan mengikuti modal, pada mudharabah ditanggung pemodal kecuali pengelola lalai, berkhianat, atau melanggar syarat.
  • Syirkah wujuh tipe 1 hakikatnya mudharabah, tipe 2 hakikatnya abdan.
  • Dalam pertanian, muzara’ah dan mukhabarah haram, musaqah halal.

Daftar istilah

Istilah Tulisan Arab Arti singkat
Syirkah شركة Aqad kongsi usaha
Syirkah amlak شركة الأملاك Kepemilikan bersama atas suatu barang
Syirkah inan شركة عنان Semua mitra memberi modal dan kerja
Syirkah abdan شركة أبدان Semua mitra hanya memberi kerja
Syirkah mudharabah شركة مضاربة Satu pihak modal, pihak lain kerja
Syirkah wujuh شركة وجوه Kongsi berdasar ketokohan dan kepercayaan
Syirkah mufawadhah شركة مفاوضة Gabungan semua jenis syirkah
Shahibul mal صاحب المال Pemodal
Mudharib مضارب Pengelola dalam mudharabah
Muzara’ah مزارعة Garap lahan, pemilik tanggung semua biaya (haram)
Mukhabarah مخابرة Garap lahan, penggarap tanggung bibit dan biaya (haram)
Musaqah مساقاة Merawat pohon milik orang lain dengan bagi hasil (halal)

Terakhir diperbarui: 26 Oktober 2026.

Masih sejalan