Dari Baca Buku ke Ruang Kelas: Cerita Saya Dapat Certified Sharia Business Consultant
Bertahun-tahun saya belajar fiqh muamalah otodidak. Sampai saya masuk Akademi Konsultan Bisnis Syariah (CORe ISEC) dan mendapat sertifikasi C.SBC. Ini ceritanya.
Di tangan saya ada map ijazah resmi dari CORe ISEC. Bukan sertifikat kursus sehari yang dicetak otomatis begitu selesai bayar. Ini keluar setelah berbulan-bulan kelas, dan tetap bikin saya diam sebentar sambil bertanya ke diri sendiri: pantas nggak saya memegang ini?
Ceritanya tidak instan. Dan justru itu yang bikin berharga.
Dulu Saya Pikir Ilmu Cukup Dibaca
Bertahun-tahun saya belajar fiqh muamalah dengan cara paling gampang: baca buku, nonton video, ikut webinar gratisan. Lumayan, saya bisa ngobrol soal akad, riba, dan hukum-hukum dasar transaksi.
Tapi makin ke sini saya sadar ada yang kurang. Bukan salah, tapi kurang. Ilmu yang saya kumpulkan itu serpihan: sepotong dari sini, sepotong dari sana. Tanpa urutan, tanpa ada yang mengoreksi kalau saya keliru. Untuk dipakai sendiri mungkin cukup. Tapi kalau mau jadi rujukan orang lain, kalau mau berani menyebut diri “konsultan bisnis syariah”, serpihan saja tidak cukup.
Saya butuh belajar yang ada gurunya, ada urutannya, dan ada yang berani bilang “ini pemahamanmu keliru.”
Kenapa Saya Masuk AKBS
Saya masuk Akademi Konsultan Bisnis Syariah (AKBS) Batch #2, program dari CORe ISEC (Center of Research Islamic Economics), dengan guru utama Ust. H. Dwi Condro Triono, Ph.D, yang dikenal sebagai “Gurunya Pengusaha Muslim Indonesia”.
Bedanya dengan otodidak terasa sejak awal. Kurikulumnya tersusun rapi dan dibagi dua sisi yang saling melengkapi:
- Ilmu Langit (tsaqafah) - fondasi cara pandang: fiqh muamalah, transaksi kontemporer, sampai ketenagakerjaan syariah.
- Ilmu Bumi (manajemen bisnis) - turunan praktiknya: akad bisnis, financial mindset, pengelolaan SDM, hingga Sharia Business Model Canvas.
Yang satu meluruskan cara berpikir, yang satu menurunkannya jadi keputusan bisnis nyata. Dan yang paling penting buat saya: ada pengajar yang bisa ditanya langsung, dan ada evaluasi, jadi saya tahu mana yang benar-benar nyantol, mana yang cuma saya kira sudah paham.
Satu hal yang tak akan saya lupa: jam kelasnya Jum’at dan Ahad, pukul 05.30-07.00 WIB. Ba’da subuh. Belajar di jam segitu itu ujian tersendiri, dan lama-lama saya paham, mungkin memang di situ salah satu didikannya.
Prosesnya Berbulan-bulan
Program ini saya jalani dari November 2024 sampai April 2025. Bukan sprint, tapi jalan panjang.
Satu demi satu materi saya lewati. Ada yang langsung masuk, ada yang harus diulang sampai beberapa kali. Ada bagian yang bikin saya mengangguk, ada juga yang bikin garuk kepala karena ternyata pemahaman saya selama ini meleset. Dan di sinilah gunanya ruang kelas: kalau otodidak, kekeliruan itu bisa saya bawa bertahun-tahun tanpa sadar.
Alhamdulillah, di akhir program saya lulus dengan predikat Jayyid Jidan. Tapi jujur, yang paling saya syukuri bukan nilainya, tapi rasa tenang karena tahu ilmu yang saya pegang sekarang ada yang menuntun dan mengoreksi.
Yang Saya Dapat - Bukan Cuma Sertifikat
Kalau ditanya apa hasil paling berharga dari program ini, jawaban saya bukan “map ijazah” itu. Tapi tiga hal:
- Tanggung jawab. Sejak berani menyebut diri konsultan bisnis syariah, saya jadi lebih hati-hati. Bukan karena takut salah, tapi karena sadar setiap yang saya sampaikan akan dipertanggungjawabkan, di dunia dan di akhirat.
- Adab. Belajar dengan guru mengajarkan cara berbeda pendapat tanpa merendahkan. Ilmu itu dijaga dengan cara menyampaikannya benar, bukan dengan menyombongkannya.
- Kalau ditanya “dari mana ilmumu?”, saya punya jawaban. Bukan “katanya” atau “baca-baca”. Tapi program yang jelas, pengajar yang jelas, dan proses yang saya lewati sendiri.
Saya tidak bilang belajar otodidak itu buruk, hampir semua dari kita mulai dari buku dan video, termasuk saya. Tapi ketika ilmu itu mau dipakai untuk mendampingi bisnis orang lain, menyentuh halal-haram harta mereka, ada tanggung jawab untuk memastikan ilmunya benar-benar utuh, bukan tebak-tebakan.
Penutup
Buat Anda yang masih di fase “baca-baca sendiri”, lanjutkan, tapi jangan berhenti di situ kalau memang mau serius. Cari program yang ada gurunya, jalani prosesnya, jaga adabnya. Tidak harus cepat; yang penting istiqamah.
Saya masih banyak kurangnya. Tapi setidaknya sekarang, kalau ada yang bertanya soal muamalah dan saya tidak tahu, saya tahu harus bertanya ke mana, dan itu jauh lebih menenangkan daripada sekadar merasa sudah tahu.
Baca juga: Apa yang Bisa Anda Kontrol? Dua Lingkaran • 3 Taraf Berpikir: Dangkal, Mendalam, Cemerlang
FAQ
Apa itu Certified Sharia Business Consultant (C.SBC)?
Sertifikasi konsultan bisnis syariah dari CORe ISEC (Center of Research Islamic Economics), ditempuh lewat program Akademi Konsultan Bisnis Syariah (AKBS) selama beberapa bulan.
Apa bedanya dengan sertifikat kursus biasa?
Program ini berbasis kurikulum bertahap dengan pengajar dan evaluasi, bukan sekadar bukti kehadiran satu sesi. Kelasnya rutin - dalam kasus saya, Jum’at & Ahad ba’da subuh.
Apakah belajar otodidak tidak berkah?
Tetap berkah, asal tidak menyampaikan sesuatu di luar kapasitas. Tapi kalau ingin menjadi rujukan dan mendampingi bisnis orang lain, belajar terstruktur dengan pengajar sangat dianjurkan.
Berapa lama prosesnya?
Dalam kasus saya, sekitar November 2024 sampai April 2025 - bertahap, bukan instan.