Apa yang Bisa Kamu Kontrol? Dua Lingkaran Hidup
Banyak hal di luar kendali kita. Tapi bukan berarti kita gak bisa apa-apa. Ada dua lingkaran yang perlu dibedakan.

Apa yang Bisa Kamu Kontrol?
Saya habiskan dua jam untuk sesuatu yang tidak bisa saya ubah. Lucu ya? Tapi itu yang terjadi.
Server error di jam sibuk. Saya liat monitor, jantung langsung dag-dig-dug. Buka terminal. Cek log. Restart. Gagal. Cek konfigurasi Nginx. Reset firewall. Ganti DNS. Restart lagi.
Gagal lagi.
Coba googling. Buka forum. Baca-baca. “Mungkin ini masalah DNS propagation.” Saya cek DNS. Gak ada masalah. “Mungkin SSL certificate kedaluwarsa.” Cek SSL. Masih aktif. “Mungkin ada perubahan konfigurasi.” Cek perubahan terakhir. Gak ada.
Dua jam berlalu. Keringat dingin. Client udah mulai chat. “Pak, website saya kenapa?” Saya bales sekenanya. “Lagi dicek.” Padahal gak tau harus cek apa lagi.
Saya duduk. Ambil napas.
Jawabannya bukan karena server error. Bukan karena client. Tapi karena ekspektasi saya sendiri. Saya merasa harus bisa fix semuanya. Saya merasa kalau server error, itu salah saya. Saya yang harus tanggung jawab.
Padahal tidak selalu.
Dua Lingkaran
Saya buka kitab Syakhshiyah Islamiyah, baca-baca lagi konsep daira. Dua lingkaran. Dan baru sadar saya selama ini stress karena ngurusin hal yang bukan urusan saya.
Lingkaran pertama, yang menguasai kita: Lingkaran ’Aqidah. Qadla dan qadar. Takdir yang sudah ditetapkan. Khasiat benda. Hukum alam. Maintenance server dari provider yang lagi bermasalah. Koneksi internet client yang putus. Waktu server provider lagi maintenance malam minggu.
Ini urusan keyakinan. Antara kita dengan Allah. Kita terima, kita imani, kita tidak usah stress. Karena stres tidak akan mengubah takdir. Hanya bikin kepala pusing dan hati gelisah.
Lingkaran kedua, yang kita kuasai: Lingkaran Mu’amalah. Perbuatan ikhtiari. Pilihan kita. Cara kita merespons. Keputusan yang kita ambil. Update yang kita kirim ke client.
Ini urusan interaksi. Antara kita dengan manusia. Ini yang akan dimintai pertanggungjawaban. Jadi harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Bedanya, lingkaran ’aqidah tidak bisa diubah dengan usaha, hanya bisa diterima dengan iman. Lingkaran mu’amalah bisa diubah, dan kita wajib berusaha seoptimal mungkin.
Analogi, hujan itu lingkaran ’aqidah, sudah ketentuan Allah. Tapi bawa payung atau berteduh itu lingkaran mu’amalah, pilihan kita. Gak usah ngomel-ngomel karena hujan, ngomel tidak menghentikan hujan. Mending ambil payung dan jalan.
Server error itu, saya bisa ngapain? Restart sudah. Cek log sudah. Tapi koneksi internet client? Di luar kuasa saya. Provider lagi maintenance? Di luar kuasa saya. Saya duduk dua jam panik buat sesuatu yang dari awal tidak bisa saya ubah.
Yang bisa saya kontrol waktu itu cuma satu, komunikasi. Saya kirim update ke client. Jujur. “Ada kendala teknis, saya lagi handle, estimasi satu jam.”
Client malah tenang. “Oh gitu, baik pak.”
Dua jam panik. Satu menit komunikasi. Selesai.
Bukan Cuma Server
Setelah paham konsep ini, saya lihat ke kiri kanan dan sadar, selama ini banyak hal yang saya stress-in sebenarnya lingkaran pertama.
Klien tawar-menawar harga. Itu lingkaran pertama, hak mereka. Yang bisa saya kontrol, jelaskan value, kasih opsi, atau tolak.
Istri lagi bad mood. Itu lingkaran pertama, perasaannya. Yang bisa saya kontrol, cara saya merespons, apakah saya ikut kesel atau saya tanya ada apa.
Macet di jalan. Lingkaran pertama. Yang bisa dikontrol, pilih jalur alternatif, atau putar musik biar gak bete. Bukan nge-klakson terus yang ujung-ujungnya cuma bikin naik darah.
Banyak orang bilang ini pasrah. “Berarti santai aja dong, gak usah mikir.”
Saya jelaskan bedanya. Pasrah itu, diam, gak ngapa-ngapain, lalu kalau hasilnya jelek bilang “udah nasib.” Sadar lingkaran itu beda. Kita tetap usaha. Tapi usaha di tempat yang tepat. Energi gak habis buat hal yang memang di luar kuasa.
Gak perlu jauh-jauh. Waktu ada teman diPHK. Itu lingkaran ’aqidah. Nasib yang sudah ditetapkan. Tapi yang bisa dia kontrol, cari kerja baru, upgrade skill, atau buka usaha. Bukan ngomel-ngomel di grup WA sambil nyalahin perusahaan.
Sama kayak rebutan di jalan. Macet itu lingkaran satu. Yang bisa dikontrol, pilih jalur alternatif, atau putar musik biar gak bete. Bukan nge-klakson terus yang ujung-ujungnya cuma bikin naik darah.
Cara Terapkan
Sekarang setiap kali mulai panik, saya tanya: “Ini lingkaran 1 atau 2?”
Kalau jawabannya lingkaran 1, saya tarik napas, terima, fokus ke yang lain. Gak perlu stress, gak perlu overthinking. Terima saja. Tapi bukan berarti berhenti. Saya tetap bisa pantau, tetap bisa cek, tapi tanpa beban emosi yang berlebihan.
Kalau lingkaran 2, langsung gerak. Tanpa buang waktu buat overthinking. Karena kalau sudah tahu ini bisa saya ubah, kenapa ditunda?
Saya buat kebiasaan, tiap kali mau ambil keputusan, saya jeda lima detik. Tanya. Baru gas. Kadang jawabannya langsung kelihatan, kadang perlu dipikir. Tapi setidaknya saya gak lagi bergerak secara otomatis kayak robot.
Gampang? Enggak. Saya masih sering lupa. Tapi setiap kali ingat, kepala jadi lebih dingin. Dan itu udah cukup buat saya lanjut hidup tanpa bawa stress yang gak perlu.
Mulai dari server error, masalah client, sampai urusan rumah, semuanya lebih terkelola sejak saya paham dua lingkaran ini. Saya gak bilang hidup jadi sempurna. Tapi setidaknya saya gak lagi marahin hujan karena batal jalan.
Baca juga: 3 Taraf Berpikir: Dangkal, Mendalam, Cemerlang
FAQ
Apa bedanya dengan pasrah?
Pasrah, diam, gak ngapa-ngapain, nyalahin takdir. Sadar lingkaran, terima, lalu fokus ke yang bisa dikontrol. Effort tetap ada, tapi di tempat yang tepat.
Gimana bedain lingkaran 1 dan 2?
Tanya, apa yang bisa saya lakukan sekarang secara langsung? Kalau jawabannya tidak ada, itu lingkaran satu. Fokus ke hal lain yang bisa dikerjakan.
Apakah lingkaran satu bisa berubah jadi dua?
Tidak. Tapi respons kita di lingkaran dua bisa mengubah dampak lingkaran satu. Server error tetap di luar kuasa, tapi komunikasi yang baik bisa bikin klien tetap tenang.
Di mana saya bisa baca lebih lanjut?
Syakhshiyah Islamiyah Jilid 1, Bagian II.