Waqi' Sambil Nulis Waqi': Meta-Waqi'
Saya disuruh rewrite artikel waqi'. Tapi sebelum nulis, saya praktik waqi' dulu. Hasilnya? Rencana awal saya meleset total.
Waqi’ Sambil Nulis Waqi’: Meta-Waqi’
Saya disuruh rewrite artikel yang judulnya “Gagal Karena Gak Baca Realitas: Pentingnya Waqi.”
Sebelum mulai, saya duduk. Saya waqi’-kan dulu apa yang perlu diubah. Tiga pertanyaan standar: fakta vs asumsi, data basi.
Saya jawab jujur.
Fakta: artikel waqi sudah ada, panjang 110 baris, isinya lumayan. Asumsi: tinggal bersihin dikit, tambah tabel, selesai. Data basi: evaluasi pembaca belum ada. Saya nulis setahun lalu. Saya kira masih relevan.
Saya buka artikel itu. Mulai baca ulang.
Dua jam kemudian, artikelnya berubah total. Bukan “bersihin dikit.” Tapi hampir separuh konten diganti.
Ini ceritanya.
Rencana Awal
Saya buka draft lama. Judulnya “Gagal Karena Gak Baca Realitas.” Cerita openingnya soal klien landing page. Cukup kuat. Target materinya jelas: ihsas, fakta vs asumsi, tiga pertanyaan praktis.
Rencana saya: biarin openingnya, tambah tabel perbandingan level waqi, kasih internal link, bersihin bahasa, selesai.
Saya perkirakan 30 menit.
Ternyata
Saya mulai baca dari awal.
“Saya kerja tiga hari untuk sesuatu yang ternyata tidak diinginkan klien.”
OK, opening masih kuat.
“Klien diam. Saya tunggu sejam. Dua jam. Besoknya…”
Masih bagus.
“Dari At-Tafkir saya belajar satu konsep: ihsas…”
Sampai sini saya berhenti.
Saya baca ulang kalimat itu. Kata “ihsas” muncul begitu aja. Saya jelaskan artinya, tapi tidak saya kaitkan dengan konsep waqi’ secara utuh. Pembaca yang baru pertama dengar istilah ini pasti mikir: “ihsas itu apa? emang bedanya sama waqi?”
Saya juga nemu bagian yang truncated, ada kalimat putus dengan [[truncated]] di FAQ. Itu pasti dari proses nulis dulu yang kurang rapi. Tidak pernah saya edit ulang.
Semakin saya baca, semakin banyak yang perlu diubah. Bukan soal tata bahasa. Tapi soal nada dan arah.
Dulu saya nulis dengan nada “saya sudah paham, ini saya ajarin ke kamu.” Tapi setelah setahun belajar waqi’ lebih dalam, saya sadar: waqi’ itu bukan sesuatu yang bisa diajarkan dengan menggurui. Waqi’ itu ditularkan dengan cerita.
Jadi saya ubah nadanya. Dari “saya kasih tahu kamu” jadi “saya juga masih belajar, ini yang saya alami.”
Tiga pertanyaan di bagian praktis? Saya biarkan. Sudah tepat. Tapi urutannya saya ubah, karena setelah baca ulang, urutan awal kurang nyambung secara logika.
Tambah tabel perbandingan dulu vs sekarang. Tambah internal link ke artikel daira dan taraf berpikir.
Dan saya bersihin [[truncated]] yang bertahun-tahun tidak saya sadari.
Dua jam. Bukan 30 menit.
Waqi’ Itu Tidak Pernah Instan
Saya nulis artikel tentang waqi’. Saya praktik waqi’ sebelum nulis. Hasilnya: artikelnya berubah karena saya berubah.
Waktu istri lewat dan lihat saya diam cukup lama di depan laptop:
“Lagi ngapain?”
“Nulis artikel soal waqi’, Ai.”
“Berarti kamu lagi waqi’?”
“Iya, sambil nulis. Sekalian praktik biar pembaca percaya.”
Dia geleng-geleng. “Berarti kamu dibayar buat nulis, tapi malah praktik dulu?”
“Justru karena itu hasilnya beda, Ai. Kalau saya tulis tanpa waqi’, jadinya artikel kayak template. Nggak ada nyawanya.”
Dia pergi. Saya lanjut nulis. Tapi dalam hati: benar juga apa yang dia katakan. Dibayar buat nulis, ujung-ujungnya malah praktik. Tapi kalau dipikir, bukankah itu yang seharusnya kita lakukan? Sebelum ngomong, baca realitas dulu. Sebelum nulis, waqi’ dulu. Hasilnya memang lebih lama. Tapi lebih jujur.
Yang saya pelajari dari proses ini: waqi’ itu bukan sekadar teknik. Ia adalah sikap. Sikap untuk tidak merasa tahu sebelum benar-benar cek. Saya pikir saya tahu apa yang kurang dari artikel itu. Tapi setelah waqi’, ternyata asumsi saya meleset.
Lucunya, ini yang saya tulis di artikel waqi’ juga: bedakan fakta sama asumsi. Ternyata saya sendiri masih perlu ngulang praktik itu.
Mulai dari hal kecil: baca ulang tulisan sendiri dengan mata yang segar. Tanya: apa yang saya anggap benar tapi belum saya verifikasi?
Kalau kamu nulis, coba praktik waqi’ sebelum mulai. Bukan cuma ngecek data. Tapi cek juga niat, nada, dan apa yang pembaca butuh, bukan apa yang kamu mau omongin. Hasilnya mungkin berbeda dari rencana. Tapi itu bukan kegagalan. Itu waqi’ yang bekerja.
Baca juga: Gagal Karena Gak Baca Realitas: Pentingnya Waqi • Apa yang Bisa Kamu Kontrol? Dua Lingkaran • 3 Taraf Berpikir: Dangkal, Mendalam, Cemerlang
FAQ
Artikel waqi’ yang mana yang di-rewrite?
Artikel berjudul “Gagal Karena Gak Baca Realitas: Pentingnya Waqi” di blog ini.
Apa yang berubah setelah di-rewrite?
Nada penulisan, urutan bagian, tambah tabel, internal link. Dan truncated dihapus.
Apakah waqi’ selalu bikin rencana meleset?
Tidak selalu. Tapi sering. Dan itu bukan masalah. Itu tanda kita baca realitas dengan benar, lebih baik tahu lebih awal daripada lanjut dengan asumsi yang salah.
Berapa lama waktu ideal buat waqi’ sebelum nulis?
Untuk artikel pendek seperti ini, 15-30 menit cukup. Untuk yang lebih panjang, bisa 1-2 jam. Tapi itu lebih murah daripada nulis ulang dari awal karena asumsinya salah.